Seputar VAKSIN: Mengapa harus di vaksin?

Praktik Variolasi Abad Kuno Sebelum teknologi medis modern berkembang, masyarakat di Tiongkok dan Kekaisaran Utsmaniyah menerapkan teknik variolasi pada abad ke-10. Metode ini dilakukan dengan mengoleskan atau menghirup bubuk kerak luka penderita cacar ke orang sehat untuk memicu kekebalan tubuh tingkat ringan.

Terobosan Edward Jenner (1796) Sejarah vaksinasi modern dimulai ketika dokter asal Inggris, Edward Jenner, mengamati bahwa para pemerah susu yang pernah tertular cacar sapi tidak pernah terinfeksi wabah cacar manusia yang mematikan. Pada tahun 1796, Jenner mengekstraksi cairan dari luka cacar sapi dan menyuntikkannya ke seorang anak. Ketika anak tersebut dipaparkan virus cacar manusia, ia terbukti memiliki kekebalan. Istilah vaksin sendiri diambil dari kata vacca yang merupakan bahasa Latin untuk sapi.

Pengembangan Vaksin Laboratorium oleh Louis Pasteur (1880-an) Ilmuwan asal Prancis, Louis Pasteur, memperluas konsep pembuatan kekebalan dengan menemukan cara melemahkan mikroba di laboratorium. Pasteur menciptakan vaksin pertama untuk antraks dan berhasil menyembuhkan anak yang tergigit anjing rabies pada tahun 1885. Penemuan ini membuktikan bahwa prinsip imunisasi dapat diterapkan pada berbagai jenis penyakit infeksi lain.

Ekspansi Vaksinasi Massal (Abad ke-20) Abad ke-20 menjadi era keemasan pengembangan imunisasi global dengan penemuan berbagai vaksin krusial:

  • Vaksin BCG dan DPT: Mengendalikan penyebaran tuberkulosis, difteri, pertusis, dan tetanus.

  • Vaksin Polio: Jonas Salk merancang vaksin polio berbasis virus mati pada tahun 1955, disusul oleh Albert Sabin yang mengembangkan vaksin polio oral tetes.

  • Pemusnahan Penyakit Cacar: Berkat program vaksinasi serentak secara global, Organisasi Kesehatan Dunia secara resmi menyatakan penyakit cacar manusia telah punah sepenuhnya pada tahun 1980.

Era Bioteknologi dan mRNA (Abad ke-21) Memasuki abad ke-21, pembuatan vaksin bertransformasi menggunakan rekayasa genetika dan bioteknologi molekuler. Pengembangan vaksin tidak lagi selalu membutuhkan penumbuhan virus utuh, melainkan memanfaatkan platform kode genetik mRNA atau vektor virus untuk memicu respons imun secara lebih cepat, presisi, dan aman.

Vaksinasi pada masa remaja (usia 10–18 tahun) bertujuan memperkuat kekebalan dari imunisasi masa kanak-kanak serta memberikan perlindungan terhadap risiko infeksi baru.

Vaksin HPV Melindungi dari infeksi virus penyebab kanker serviks dan kutil kelamin. Pemberian ideal dilakukan pada usia 9–14 tahun sebanyak 2 dosis, atau usia 15 tahun ke atas sebanyak 3 dosis.

Vaksin Tdap / Td Berfungsi sebagai dosis penguat untuk mencegah tetanus, difteri, dan pertusis. Diberikan 1 kali pada rentang usia 10–12 tahun, lalu dilanjutkan booster Td setiap 10 tahun sekali.

Vaksin Influenza Diberikan 1 kali setiap tahun untuk menjaga daya tahan tubuh dari serangan virus flu musiman yang terus bermutasi.

Vaksin Dengue Mencegah risiko gejala berat akibat infeksi demam berdarah. Vaksin ini direkomendasikan untuk anak dan remaja usia 6–16 tahun.

Vaksin Varisela Melindungi dari cacar air. Diberikan sebanyak 2 dosis bagi remaja yang belum pernah menderita cacar air atau belum menerima vaksinasi ini saat balita.

Vaksin MMR / MR Diberikan untuk melengkapi perlindungan terhadap campak, gondongan, dan rubella jika status imunisasi pada masa kecil belum lengkap.

https://parentalk.id/vaksin-mmr-tersedia-lagi-awal-tahun-ini/


Posting Komentar untuk "Seputar VAKSIN: Mengapa harus di vaksin?"