KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP

Makhluk hidup di bumi memiliki bentuk, ukuran, habitat, serta karakteristik yang sangat beragam. Untuk memudahkan manusia dalam mengenali, membandingkan, dan mempelajari berbagai makhluk hidup tersebut, diperlukan suatu sistem yang disebut klasifikasi makhluk hidup.

Klasifikasi makhluk hidup adalah proses pengelompokan makhluk hidup berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri-ciri yang dimilikinya. Ilmu yang mempelajari pengelompokan dan pemberian nama makhluk hidup disebut taksonomi.

Tujuan klasifikasi makhluk hidup antara lain:

  1. Mempermudah mempelajari keanekaragaman makhluk hidup.

  2. Mengetahui hubungan kekerabatan antarorganisme.

  3. Mengelompokkan organisme berdasarkan persamaan dan perbedaan cirinya.

  4. Memberikan nama ilmiah yang berlaku secara internasional.

  5. Mempermudah komunikasi ilmiah mengenai suatu organisme.

1. Klasifikasi Enam Kingdom

Sistem klasifikasi makhluk hidup terus berkembang seiring perkembangan ilmu pengetahuan. Berdasarkan kajian mengenai karakteristik sel dan hubungan evolusi organisme, dikenal sistem enam kingdom yang berkaitan dengan perkembangan sistem klasifikasi oleh Carl Woese.

Makhluk hidup dalam sistem ini dikelompokkan menjadi enam kingdom, yaitu Archaebacteria, Eubacteria, Protista, Fungi, Plantae, dan Animalia.

Kingdom

Tipe Sel

Jumlah Sel

Cara Memperoleh Makanan

Contoh

Archaebacteria

Prokariotik

Uniseluler

Autotrof atau heterotrof

Methanobacterium, Halobacterium

Eubacteria

Prokariotik

Uniseluler

Autotrof atau heterotrof

Escherichia coli, Lactobacillus

Protista

Eukariotik

Umumnya uniseluler

Autotrof atau heterotrof

Amoeba, Euglena, Paramecium

Fungi

Eukariotik

Uniseluler atau multiseluler

Heterotrof

Jamur tiram, ragi, Rhizopus

Plantae

Eukariotik

Multiseluler

Autotrof

Lumut, paku, mangga

Animalia

Eukariotik

Multiseluler

Heterotrof

Ikan, burung, manusia

A. Archaebacteria

Archaebacteria merupakan organisme prokariotik yang tidak memiliki membran inti. Organisme ini banyak ditemukan pada lingkungan ekstrem.

Contohnya:

  • Metanogen, hidup pada lingkungan tanpa oksigen dan menghasilkan gas metana.

  • Halofil, hidup pada lingkungan dengan kadar garam tinggi.

  • Termoasidofil, hidup pada lingkungan bersuhu tinggi dan bersifat asam.

B. Eubacteria

Eubacteria merupakan kelompok bakteri yang banyak ditemukan di lingkungan sekitar. Sebagian dapat memberikan manfaat, tetapi sebagian lainnya dapat menyebabkan penyakit.

Contohnya:

  • Lactobacillus bulgaricus digunakan dalam pembuatan yoghurt.

  • Escherichia coli hidup di saluran pencernaan manusia.

  • Rhizobium membantu mengikat nitrogen pada akar tumbuhan kacang-kacangan.

C. Protista

Protista merupakan organisme eukariotik yang sebagian besar bersel satu. Protista memiliki karakteristik yang menyerupai hewan, tumbuhan, ataupun jamur.

Contohnya:

  • Amoeba

  • Paramecium 

  • Euglena

  • Spirogyra

D. Fungi

Fungi atau jamur merupakan organisme eukariotik yang tidak memiliki klorofil sehingga tidak dapat melakukan fotosintesis. Fungi memperoleh makanan dengan cara menyerap zat organik dari lingkungannya.

Contohnya:

  • Jamur tiram

  • Jamur merang

  • Rhizopus

  • Saccharomyces

E. Plantae

Plantae merupakan organisme eukariotik multiseluler yang umumnya memiliki klorofil dan mampu melakukan fotosintesis.

Contohnya:

  • Lumut

  • Tumbuhan paku

  • Pinus

  • Mangga

  • Padi

F. Animalia

Animalia merupakan organisme eukariotik multiseluler yang tidak memiliki dinding sel dan memperoleh makanan dari organisme lain.

Contohnya:

  • Serangga 


  • Ikan

  • Katak

  • Burung

  • Kucing

  • Manusia

2. Tingkatan Takson dalam Taksonomi

Dalam klasifikasi makhluk hidup terdapat tingkatan pengelompokan yang disebut takson. Urutan takson disusun mulai dari kelompok yang paling umum hingga kelompok yang paling khusus.

Urutan tingkatan takson adalah:

Domain → Kingdom → Filum/Divisio → Kelas → Ordo → Famili → Genus → Spesies

Semakin ke bawah tingkat takson:

  • jumlah anggota semakin sedikit,

  • persamaan ciri semakin banyak,

  • hubungan kekerabatan semakin dekat.

Sebaliknya, semakin ke atas tingkat takson:

  • jumlah anggota semakin banyak,

  • persamaan ciri semakin sedikit,

  • hubungan kekerabatan semakin jauh.

Contoh Klasifikasi Manusia

Tingkat TaksonKlasifikasi Manusia
DomainEukarya
KingdomAnimalia
FilumChordata
KelasMammalia
OrdoPrimates
FamiliHominidae
GenusHomo
SpesiesHomo sapiens

Manusia termasuk kingdom Animalia karena bersifat heterotrof, memiliki banyak sel, tidak memiliki dinding sel, serta mampu bergerak aktif.

Manusia termasuk kelas Mammalia karena memiliki beberapa ciri, antara lain:

  • memiliki rambut,

  • memiliki kelenjar susu,

  • bernapas menggunakan paru-paru,

  • memiliki suhu tubuh relatif tetap.

3. Tata Nama Binomial Nomenklatur

Setiap daerah dapat memiliki nama yang berbeda untuk organisme yang sama. Oleh karena itu, ilmuwan menggunakan sistem penamaan ilmiah yang berlaku secara internasional.

Sistem tersebut dikenal sebagai Binomial Nomenklatur.

Binomial nomenklatur berarti sistem tata nama makhluk hidup yang terdiri atas dua kata.

Sistem ini diperkenalkan dan dikembangkan oleh Carolus Linnaeus.

Aturan Penulisan Nama Ilmiah

Nama ilmiah terdiri atas dua kata:

Kata pertama = Genus
Kata kedua = epitet spesifik atau penunjuk spesies

Aturan penulisannya adalah:

  1. Menggunakan bahasa Latin atau bahasa yang dilatinkan.

  2. Terdiri atas dua kata.

  3. Huruf pertama nama genus ditulis dengan huruf kapital.

  4. Huruf pertama kata kedua ditulis dengan huruf kecil.

  5. Jika diketik, nama ilmiah ditulis dengan huruf miring (italic).

  6. Jika ditulis tangan, kedua kata diberi garis bawah secara terpisah.

Contoh Binomial Nomenklatur

Nama OrganismeNama Ilmiah
ManusiaHomo sapiens
PadiOryza sativa
JagungZea mays
ManggaMangifera indica
KelapaCocos nucifera
KucingFelis catus

Contohnya pada nama:

Mangifera indica

Keterangan:

  • Mangifera merupakan nama genus.

  • indica merupakan epitet spesifik.

Nama ilmiah penting karena dapat menghindari kesalahan akibat perbedaan nama lokal.

Sebagai contoh, suatu tumbuhan mungkin mempunyai nama daerah yang berbeda di berbagai wilayah, tetapi hanya mempunyai satu nama ilmiah yang digunakan secara internasional.

4. Kunci Dikotom

Dalam kegiatan klasifikasi, kita sering menemukan organisme yang belum diketahui kelompoknya. Salah satu cara untuk membantu mengidentifikasinya adalah menggunakan kunci dikotom.

Kunci dikotom adalah alat untuk mengidentifikasi organisme dengan menggunakan pasangan pernyataan yang memiliki dua pilihan ciri yang saling berlawanan.

Kata dikotom berarti terbagi menjadi dua.

Pengguna memilih salah satu dari dua pernyataan berdasarkan ciri organisme yang sedang diamati. Pilihan tersebut kemudian mengarahkan pengguna menuju pasangan pernyataan berikutnya sampai diperoleh nama atau kelompok organisme.

Contoh Sederhana Kunci Dikotom

Misalnya terdapat empat organisme:

  • Ikan

  • Katak

  • Burung

  • Kucing

Kunci dikotomnya dapat dibuat sebagai berikut:

1a. Tubuh memiliki rambut → Kucing
1b. Tubuh tidak memiliki rambut → lanjut ke nomor 2

2a. Tubuh memiliki bulu → Burung
2b. Tubuh tidak memiliki bulu → lanjut ke nomor 3

3a. Hidup di air dan bernapas dengan insang ketika dewasa → Ikan
3b. Hidup di dua lingkungan dan mengalami metamorfosis → Katak

Cara Menggunakan Kunci Dikotom

Misalnya organisme yang akan kita identifikasi adalah burung.

Langkah pertama melihat pasangan pernyataan nomor 1.

Burung tidak memiliki rambut, sehingga memilih:

1b → lanjut ke nomor 2

Pada nomor 2 terdapat pilihan:

2a. Tubuh memiliki bulu → Burung

Dengan demikian, organisme tersebut dapat diidentifikasi sebagai burung.

Cara Membuat Kunci Dikotom

Dalam membuat kunci dikotom, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:

  1. Amati ciri-ciri setiap organisme.

  2. Pilih ciri yang mudah diamati.

  3. Gunakan dua pernyataan yang saling berlawanan.

  4. Mulailah dari ciri yang paling umum.

  5. Lanjutkan menuju ciri yang semakin khusus.

  6. Pastikan setiap pilihan mengarah pada organisme atau pasangan pernyataan berikutnya.

Contoh ciri yang dapat digunakan antara lain:

  • bertulang belakang atau tidak bertulang belakang,

  • memiliki sayap atau tidak memiliki sayap,

  • memiliki rambut atau tidak memiliki rambut,

  • hidup di air atau di darat,

  • memiliki bunga atau tidak memiliki bunga,

  • memiliki biji atau tidak memiliki biji.


Kesimpulan

Klasifikasi makhluk hidup membantu kita memahami keanekaragaman organisme secara lebih sistematis. Dalam sistem enam kingdom, organisme dikelompokkan menjadi Archaebacteria, Eubacteria, Protista, Fungi, Plantae, dan Animalia.

Pengelompokan organisme dilakukan berdasarkan tingkatan takson mulai dari Domain, Kingdom, Filum atau Divisio, Kelas, Ordo, Famili, Genus, hingga Spesies.

Setiap organisme juga mempunyai nama ilmiah berdasarkan aturan binomial nomenklatur, yaitu sistem penamaan menggunakan dua kata yang menunjukkan genus dan epitet spesifik.

Untuk mengetahui identitas suatu organisme berdasarkan ciri-cirinya, kita dapat menggunakan kunci dikotom.

Dengan memahami klasifikasi, tingkat takson, tata nama ilmiah, serta kunci dikotom, kita dapat mempelajari keanekaragaman makhluk hidup dengan lebih mudah, terstruktur, dan ilmiah.

Untuk memperdalam materi klasifikasi, pelajari slide dibawah ini:

oleh Tri Retno Wulan, S.Pd, Farelina Dinda Benaya Nursin, Alifia Syahla Ramadhani  

Pertanyaan Refleksi

  1. Mengapa makhluk hidup perlu diklasifikasikan?

  2. Apa perbedaan Archaebacteria dan Eubacteria?

  3. Tuliskan urutan tingkatan takson dari tingkat tertinggi sampai terendah.

  4. Mengapa nama ilmiah diperlukan dalam ilmu Biologi?

  5. Apa fungsi kunci dikotom dalam proses klasifikasi makhluk hidup?

Posting Komentar untuk "KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP"